DIRGAHAYU KE-70 REPUBLIK INDONESIA

Assalammualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

Salam sejahtera bagi kita semua
Salam MERDEKA!

Saya Muhammad Fauzan Fakhrurrozi
admin Fauzan Bercerita mengucapkan:


DIRGAHAYU KE-70 TAHUN
PROKLAMASI KEMERDEKAAN
REPUBLIK INDONESIA



DENGAN SEMANGAT PROKLAMASI 17 AGUSTUS 1945, 
KITA DUKUNG GERAKAN NASIONAL "AYO KERJA" 70 TAHUN
INDONESIA MERDEKA




Sekian
Wassalammualaikum Warahmatullah Wabarakatuh

MERDEKA!!! 
   

12 Plus : Introduction



Kali ini edisinya special
Terinspirasi dari pertanyaan ibunya Vania beberapa bulan lalu.

Edisi ini, gue akan menceritakan seseorang yang sudah bareng sama gue selama 12 tahun dan akan berlanjut 4 tahun kedepan Insya Allah. Ini cerita tentang, Fakhri Maulana.

Jadi, gue sama Fakhri ini udah bareng dari SD, SMP, SMA, dan akan berlanjut ke Universitas yang sama. Kita sama-sama dari SDIT Al Khairaat di Condet, Jakarta Timur. Selama di SD, kita tuh sekelas selama 4 tahun dari kelas 3, 4, 5, dan 6. Pas SD, kita pernah satu ekstrakulikuler, yaitu ekskul Jurnalistik pas kelas 4 kalo gasalah. Selepas itu, gue masuk Science Club dan Fakhri lupa waktu itu kemana hahahaha. 

Tahun 2009, akhirnya lulus juga dari SD. Pas pendaftaran, gue sempet tersangkut beberapa jam di 49 waktu itu, tapi akhirnya ilang dan masuk di 20. Nah, ternyata Fakhri masuk di 20 juga waktu itu tapi beda kelas waktu itu. Gue masuk ke 7A, tapi Fakhri masuk ke 7E. Selama kelas 7, kita kan masuk siang dan pulang sore. Pernah beberapa kali kita dan yang lainnya kalo pulang, nungguin bus sekolah di pertigaan HEK hahaha. Bel sekolah jam lima, kadang baru dapet BS ba’da maghrib. Biasa, hemat uang jajan pada masa itu. Ohiya, selama kelas 7 kita sempet satu ekskul bareng. Apa itu? Gausah kaget, kita sempet jadi anak Rohis pas itu. Bahkan gue sempet jadi bagian Divisi Humas, dan Fakhri Divisi Syiar (gatau dah bener apa kagak). 

Pas kelas delapan, gue sama Fakhri pun kepisah lagi. Gue masuk di 8B dan Fakhri di 8I. Selama kelas 8 juga ya kita masih suka ketemu dan berbincang-bincang. Pas kelas delapan, gue waktu itu maju dan kepilih jadi Ketua OSIS. Dan kemudian, gue beralih ekskul ke Mading dan memegang Koordinator News, intinya ya ngurusin berita-berita gitu deh. Sedangkan Fakhri waktu itu masuk ke ekskul silat kalo gasalah. Selama kelas delapan, kita punya temen akrab masing-masing dan udah jarang ketemu dan komunikasi. Ditambah jam pulang gue yang bisa telat berjam-jam, sedangkan Fakhri langsung ilang sesudah bel. 

Singkat cerita, masuk juga kita di kelas sembilan. Nah, akhirnya gue sama Fakhri sekelas juga waktu itu. Kita sama-sama di kelas 9B waktu itu. Pas awal kelas sembilan, ada momen pemilihan pengurus kelas dan hasil pemilihannya tak terduga waktu itu. Gue kepilih jadi wakil ketua kelas, dan ketua kelasnya adalah Frans Effendi alias Muklis (serius, ini gaboong). Itu hasil pemilihan yang demokratis tapi asal-asalan wakaka. Hingga pada akhirnya, Frans digulingkan. Otomatis gue jadi ketua kelas, dan lupa gimana sampe akhirnya gue meminta Fakhri sebagai wakil waktu itu. Selama setahun, Fakhri juga waktu itu sebagai humas yang ngabarin segala tugas atau PR ke orang-orang sekelas. Dan sebelum disebar, Fakhri biasanya nanya dulu ke gue. Pada saat itu, hape gue masih jadul bin alay yang baterenya cuma 3 bar dan gampang banget mati waktu itu. Namanya Fakhri, kalo sms belum dibales, dia bakal sms terus-terusan. Waktu itu gue LIA tiap sore dan baru kelar jam 5, dan biasanya hape gue udah dalam keadaan mati. Sampe rumah, langsung gue cas dan ada sampe belasan sms dari Fakhri yang isinya sama “Jan, ada pr apaan?”. Pas akhir kelas sembilan, gue sama Fakhri segrup dengan yang lain buat ujian praktik seni waktu itu. Dan UP kita waktu itu drama tentang The Three Musketeers.

Lulus SMP lanjutlah ke SMA. Setelah ikut UN, gue waktu itu dapet NEM senilai 35.50 dan milih di tiga sekolah, yakni SMA 14, SMA 67, dan SMA 62. Kenapa? Selain jaraknya dekat dari rumah, sekaligus kualitas sekolahnya juga memang bagus. Pas PPDB, nama gue masuk di 14 tepatnya di halaman-halaman akhir dan Fakhri juga masuk di 14 tapi peringkatnya lebih baik dari gue. PPDB waktu itu masa-masa paling menegangkan kali ya, soalnya setiap hari peringkat gue makin turun, turun, dan turun. Sampai di hari terakhir jam 2 siang, Alhamdulillah gue masuk 14 dengan peringkat 279 dari 280 gils. Pas masuk gue langsung bilang Fakhri, dan dia waktu itu bilang: “Apa gue bilang, gue doain lu biar masuk 14”. Akhirnya gue masuklah di 14, dan singkat cerita masuk di kelas XG setelah 4 hari di XB. Semester kedua, ada perubahan pengurus kelas di XG dan waktu itu gue jadi ketua kelas. Pas itu, gue boleh nentuin posisi-posisi pengurus kelas. Menurut gue, ada dua posisi yang penting dikelas yaitu wakil ketua dan keamanan. Kenapa? Kalo pas gaada ketua, otomatis wakil yang gantiin. Sedangkan keamanan yang jaga kondusifitas kelas, supaya kelas tetep adem ayem. Akhirnya, gue memilih Fakhri jadi wakil, dan Tio jadi keamanan. Kenapa? Karena gue udah kenal dua-duanya lama, dan emang mereka bisa diandalkan. Alhamdulillah, diakhir tahun atas kerja keras bareng-bareng, XG berhasil masukin 27 orang ke IPA, alias terbanyak seangkatan.

Naik ke kelas XI, gue sama Fakhri sekelas lagi di XI IPA 4. Selama kelas 11, semuanya sibuk dengan ekskulnya masing-masing. Pada saat itu, Fakhri masuk ke BPH 34 OSIS dengan jabatan Ketua Satu Empat Amateur Photography Club (SEAPOC) yeay!. Singkatnya, kita naik ke kelas 12 dan gadiacak. Kelas 12, semuanya sibuk nentuin mau ngelanjutin kuliah dimana. Nah, gue sama Fakhri sempet punya pilihan yang beda nih. Gue waktu itu mau ke PWK UGM, dan Fakhri pengen ke Nuklir UGM. Tapi kemudian, gue dilarang emak bapak untuk ke UGM haha. Akhirnya gue milih antara ITS atau UB. Ternyata, Fakhri pun ganti pilihannya ke Mesin UI kalo gasalah. Sampai pada akhirnya, gue milih Teknik Sipil dan PWK UB, sedangkan Fakhri milih Teknik Mesin UB. Masya Allah, 9 Mei pas pengumuman SNMPTN gue masuk Teknik Sipil UB dan Fakhri Teknik Mesin UB. Lagi-lagi, manusia cuma bisa berencana, tetep Tuhan yang menentukan. Kemudian Pak Lilik (wali kelas XG) minta supaya kita tinggal bareng alias satu kos. Dan akhirnya, kita ngekos bareng nantinya. 

Sama kaya judul postingannya, ini baru sekedar perkenalan atau permulaan. Kedepan, gue bakal ngepost kegiatan dan kedodolan kita selama kuliah empat tahun kedepan. Dan post ini didedikasikan khusus buat, Fakhri Maulana.

Happy Birthday, Fakhri!

Bicara Soal Jakarta


Jakarta kotaku indah dan megah
Disitulah aku dilahirkan


Hari ini, 22 Juni 2015 diperingati sebagai hari lahir kota Jakarta. Tepatnya usia Jakarta saat ini 488 tahun. Usia yang sudah bukan muda lagi dengan segala perkembangannya yang ada saat ini. Sebagai sebuah ibukota, Jakarta ibarat magnet yang siap menarik siapapun yang ingin beradu dengannya. Dari ujung barat, sampai ujung timur berjibaku mengadu nasib di Jakarta.

Sebagai orang Jakarta yang lahir dan besar disini, hidup di Jakarta sebenarnya nggak mudah. Ya walaupun nggak sesulit hidup di daerah, setidaknya perlu beberapa hal untuk bisa survive dan kata orang “menaklukan Jakarta”. Pertama, sabar. Sabar itu modal pertama hidup di Jakarta menurut gue. Ya sabar menghadapi penuhnya Jakarta. Penuh orangnya, penuh pemukimannya, penuh juga kendaraannya. Coba kalau mau menguji kesabaran, monggo ke jalan raya pas jam berangkat dan pulang kerja. Nah, apalagi waktu ramadhan gini. Biar dikata jam masuk dan keluar kantor dicepetin, macetnya Jakarta malah makin menjadi. Eits, jangan coba-coba nguji pas lebaran. Gagal.

Kedua kuat. Kuat disini adalah kuat dalam banyak hal. Kuat menghadapi cuaca Jakarta yang pas kemarau panas banget, pas hujan bisa dingin banget. Kuat menghadapi nakalnya ibukota. Kuat menghadapi biaya hidup di Jakarta yang cukup mahal. Sebenarnya sih soal biaya hidup tergantung kita sendiri. Mau yang kelas atas sampai kelas bawah juga ada di Jakarta. Mulai yang di gerobak, sampai yang di restoran bintang lima. Mulai dari yang seorang Pattimura, sampai sekian pasang Soekarno-Hatta.

Ketiga, keahlian. Ini penting banget. Jangan coba-coba ke Jakarta tanpa keahlian. Biar dikata awalnya semangat ke Jakarta, kalau tanpa keahlian ya sia-sia. Memang, bisa saja ke Jakarta kemudian menjadi seorang direktur, pengusaha, atau politisi. Tapi gak sedikit juga yang jadi gelandangan, pengemis, bahkan pengangguran. Coba lah macam Iko Uwais, dengan keahliannya dibidang bela diri dia bisa sukses di Jakarta. Tapi ya jangan ngarep instan.

Tapi sebagai warga yang besar di Jakarta, banyak juga perubahan yang sudah terjadi. Inovasi Gubernur terdahulu, Bang Yos soal Bus Rapid Transit. TransJakarta yang sekarang sudah 12 koridor mengitari Jakarta. Inovasi Bang Jokowi soal Bus APTB yang siap mengangkut mereka dari pinggiran kota. Soal Commuter Line yang sekarang makin diminati warga ibukota, karena nyaman dan tepat waktu. Dan yang dinanti program Bang Ahok, yakni MRT, LRT, dan Monorel. Semoga aja bisa cepat selesai dan dinikmati warga Jakarta.

Pemerintahan sekarang juga tengah sibuk menyulap area-area yang tidak terpakai menjadi taman-taman yang sedikit menyegarkan. Menyingkirkan bantaran sungai, agar bisa menjadi sarana resapan air sekaligus mempercantik kota. Tak boleh lupa juga, gagasan Bang Foke soal Car Free Day yang sekarang sudah jadi sarana olahraga dan wisata yang murah dan mudah bagi warga Jakarta.


Bicara soal Jakarta, bukan hanya bicara soal Monas atau Museum Fatahillah
Bicara soal Jakarta, bukan juga soal Istana Negara atau Istana Merdeka
Bicara soal Jakarta, bicara dari ujung Pulau Seribu sampai ujung Cibubur
Bicara soal Jakarta, bicara dari Cengkareng sampai Jatiwaringin
Bicara soal Jakarta, bicara dari yang udik macam Rawa Belong, sampai yang lux macam Menteng.
Karena bicara soal Jakarta, bicara juga 5 kota dan 1 kabupaten administratifnya.


Karena ibarat tugu selamat datang, Jakarta dengan tangan terbuka menyambut siapa saja yang datang, diiringi dengan senyuman berharap agar yang datang terkesan dengan Jakarta.





DIRGAHAYU KE-488 KOTA JAKARTA
SONGSONG DAN DUKUNG KEMAJUAN JAKARTA



JAKARTA: MODERN, KREATIF & BERBUDAYA

Untuk Semua Wanita Hebat Indonesia

Di hari ini, saatnya bicara soal wanita.
Bicara soal wanita Indonesia.

Di segala sektor, banyak wanita Indonesia yang berperan disana. Di sekolah, banyak guru wanita yang ikut mendidik para tunas bangsa. Di rumah sakit, mulai dari dokter hingga petugas kebersihan wanita ada disana. Di pasar, kita bisa melihat wanita-wanita yang berjualan berbagai macam barang. Bahkan hingga di stasiun dan terminal. Penjual tiket, hingga sopir bus wanita ikut mengambil perannya disana.

Sosok wanita hebat Indonesia kala ini tentu banyak kita temui. Kita lihat dibalik pemimpin besar negara ini, ada peran wanita yang turut menemani langkah mereka. Kita juga tahu, sudah banyak wanita-wanita yang menjadi pemimpin di level manapun. Mulai dari seorang ketua di tingkat ekstrakulikuler sekolah, hingga presiden Republik Indonesia. Kondisi yang pada zaman dahulu, mungkin sulit terjadi.  Bagaimana saat ini wanita tengah dan sudah meraih kesetaraan daripada laki-laki. Dengan gayanya sendiri, para wanita hebat Indonesia menunjukkan kontribusinya bagi kemajuan di segala sektor.

Sebagai seorang pria melihat wanita Indonesia saat ini, ada rasa bangga. Bagaimana gue pernah dua kali berpartner dengan dua orang wanita yang berbeda. Dari situ, gue bisa ngelihat bagaimana wanita atau perempuan memandang sebuah hal yang sama, dengan hasil pandangan yang berbeda dibanding gue atau laki-laki. Kita gue bergaul dengan banyak perempuan, gue bisa mendapatkan banyak hal. Ketika gue bisa belajar bagaimana harus survive dari keadaan yang mungkin sulit diterima seseorang. Ketika gue belajar bagaimana harus semangat dalam mencapai apa yang diinginkan. Ketika gue bisa ikut ketawa bareng-bareng bahkan sampai nangis bareng-bareng dengan mereka semua. Dan tentunya, hal itu mungkin tidak bisa ditemui ketika bersama laki-laki.


Di hari istimewa ini, sebagai laki-laki mau ngucapin Selamat Hari Kartini untuk semua wanita hebat dimanapun berada. Tanpa wanita hebat, tidak ada sosok laki-laki hebat disana.  Sebab, dibalik seorang laki-laki hebat, terdapat dua orang wanita hebat dibelakangnya. 

Pengantar 18 Tahun




“Dan kesejahteraan atas dirinya pada hari ia dilahirkan dan pada hari ia meninggal dan pada hari ia dibangkitkan hidup kembali”
QS. Maryam:15


Assalammualaikum…
Readers semua, akhirnya gue bisa kembali lagi di blog ini. Sudah lama ya ternyata gak ngepost disini hehehe. Maklum lah kesibukan kelas 12 yang harus diprioritaskan daripada yang lain. Ya kalo dihitung-hitung sih sekitar sebulanan lagi lah segala kesibukan akan berakhir. Insya Allah.

Yap, 3 Maret yang lalu gue memasuki usia ke-18 tahun. Udah tua ya? Emang. Nggak terasa sudah masuk usia ke-18 tahun, rasa-rasanya kemarin baru lulus SD deh. Huehuehue. Btw, menurut beberapa orang sebenarnya jatah hidup gue berarti makin berkurang seiring bertambahnya usia. Semakin nambah usia, ya semakin pula nambah tanggung jawab, dan harus makin dewasa. Well, di post ini gue akan banyak cuap-cuap.

Senin, 3 Maret 1997 tepatnya di RS Haji Jakarta, lahirlah seorang anak laki-laki secara normal dengan berat 3 kg dan panjang 50 cm. Lahir saat Adzan Subuh berkumandang saat itu. Lahir sebagai anak pertama sekaligus cucu pertama dalam keluarga besar. Dan sekarang sudah memasuki usia ke-18 tahun.

Hmm… sudah banyak sih yang dialami selama delapan belas tahun ini. Tapi sebenernya, usia delapan belas tahun ini usia yang akan merubah hidup gue kedepannya. Yap, tahun ini gue akan lulus dari SMA dan lanjut ke perguruan tinggi yang gue idamkan (Universitas Brawijaya, aamiin!). Akhirnya gue akan keluar dari rumah untuk ngelanjutin pendidikan di luar kota. Sebenernya hal yang masih belum kebayang sampai saat ini. Yaa selama-lamanya jauh dari rumah dan keluarga pas study tour yang hampir satu minggu itu. Tapi ya namanya pilihan, harus konsekuen sama pilihan itu toh? Perlahan tapi pasti, Insya Allah bisa diatasi nanti, Aamiin.

Di usia yang sekarang ini, ada banyak rencana-rencana yang sudah gue persiapkan kedepannya. Ya semacam resolusi, tapi kayaknya klise banget ya. Gue pengen di usia ini bisa lebih baik dari sebelumnya. Makin taat dalam beribadah, ngurangin rasa males (ini berat banget), lebih sabar, dan nggak gampang emosi. Ohiya, sesuai dengan slogan blog ini, makin menginspirasi dan berkontribusi. Tentunya menurut Fauzan Fakhrurrozi. Selain itu, berusaha untuk makin dekat sama keluarga dan sahabat. Walaupun nanti Insya Allah di Malang, tetep kok jadi pendengar yang baik :p hehehe. Satu lagi yang penting, bakal terus update di blog yang tahun ini sudah masuk tahun ke enam, yeay!

Gue secara pribadi juga memohon maaf kalau selama setahun kebelakang ada salah-salah kata atau perbuatan secara langsung ataupun nggak. Gue juga mau ngucapin makasih banyak buat semuanya yang udah mewarnai usia tujuh belas tahun gue yang biasa aja ini (boong). Terakhir, gue mohon doanya semoga gue bisa lulus Ujian Nasional 2015 dengan hasil yang terbaik dan akhirnya masuk ke PTN yang gue inginkan, yakni Universitas Brawijaya jurusan Teknik Sipil, Aamiin.

Udahlah segitu aja dulu updatenya. Maaf kalo sekarang jarang update, kan lo pade tau rasanya ngadepin ujian nasional. Dan ah Bye!

Wassalammualaikum…

Selamat Tahun Baru 2015



Assalammualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Salam sejahtera bagi kita semua


Saya, Muhammad Fauzan Fakhrurrozi
admin Fauzan Bercerita mengucapkan:        



SELAMAT TAHUN BARU 2015
1 JANUARI 2015


Semoga ditahun yang baru ini, kita semua diberikan kesuksesan dan senantiasa mendapat keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa

Selain itu, semoga Indonesia dapat menjadi bangsa yang kuat, besar, dan berdaya saing dalam memasuki Masyarakat Ekonomi Asean 2015, serta mampu mewujudkan Negara yang adil, makmur, dan sejahtera.  



Sekian.
Wassalammualaikum Warahmatullah Wabarakatuh
Salam sejahtera bagi kita semua

Satu Kata


Ini hanya asal cerita.
Cerita tentang perjuangan.
Pengorbanan. Pelatihan. dan Kesabaran.

Berjuang setiap hari. 
Capek ya pasti. 
Berkorban waktu, energi, tenaga, fikiran.
Bosan ya pasti.

Entah kaya gimana rasa capeknya
Sudah nggak terhitung kayaknya seberapa banyak
kata lelah keluar.
Pengen cepat selesai. Kelar. 
Ditinggal begitu saja. 

Dan akhirnya.
Doa yang selalu diucap tiap saat
Mata yang terkantuk-kantuk tiap malam
Waktu yang habis kesana kesini buka buku 
Terbayar. 

Alhamdulillah


Ruang TV, bersama rintik hujan

172 Jam Keliling Jawa : Naik Bromo Bagian 2

Belum juga jam 6 pagi, matahari masih siap-siap beranjak, satu persatu dari rombongan mulai jalan mengarah ke gunung yang sudah dinantikan, Bromo. Kita ngelewatin lautan pasir yang segitu luasnya. Lautan pasir harus kita lewati kalau mau naik ke Bromonya. Jangan sangka lautan pasir ini udah ada di Bromo ya, karena bukan. Menurut perkiraan, lautan pasir ini sebenernya kawah dari Gunung Bromo purba. Wah kebayang nggak luasnya kaya gimana? Walaupun masih pagi, yang ngedaki sudah banyak. Wisatawan sudah mulai beranjak ke puncak Bromo. Ohiya disana juga ada layanan ojek kuda kalau gamau capek-capekan jalan kaki ke atas. Tapi daripada ngeluarin uang buat gituan, mending jalan hahahaha.

Ternyata setelah ngelewatin lautan pasir yang datar, lama-lama mulai menanjak jalannya. Kita sempet ngelewatin cekungan (yang gue prediksi aliran sungai). Lumayan dalam dan panjang cekungannya. Setelah nyebrangin itu ternyata medannya makin tinggi dan menanjak. Jalanannya juga gak datar, banyak cekungan cekungan ditengah jalannya. Pokoknya nggak gampang untuk sampai ke tangga ke puncak Bromonya. Disitu sebagian rombongan mulai tumbang karena capek dan juga nggak yakin bisa sampai ke atas. Akhirnya sampe juga kita di ujung dari pendakian awal. Hah pendakian awal? Iya, sebab habis itu baru kita naik anak tangga ke puncak Bromo.

Sebelum sampai di anak tangga pertama, Anita ternyata milih nggak ikut naik keatas. Disitu Anita nunggu sama beberapa temen-temen kelas gue. Nah, pas di anak tangga pertama gue naik bareng Mia. Pokoknya pas waktu itu pelan-pelan lah buat naik ke atas. Dari bawah yang diliat cuma tangga bersusun ke atas yang keliatannya banyak banget. Oke akhirnya gue dan banyak temen-temen yang lain mulai naik ke atas. Tentunya, gue bareng Mia. Ternyata, nggak gampang buat naik dari satu tangga ke tangga yang lain. Kita pokoknya udah nutup mulut+hidung pakai masker. Kenapa? Soalnya bau belerang dan asapnya ternyata mengarahnya kebawah. Lumayan capek, akhirnya sampai di sepertiga jalan.

Ceritanya di tengah jalan, lagi ada beberapa orang yang berhenti dan gue sama Mia juga udah capek. Akhirnya kita istirahat di pinggir tangga (ada tempatnya gitu). Setelah itu orang minggir, akhirnya gue lanjut lagi jalan ke atas. Sepenglihatan gue, udah tinggal sedikit lagi. Di sepanjang jalan, temen-temen tetep lanjut jalan plus ngasih support. Gue juga ngeliat beberapa guru diatas gue yang masih semangat ngedaki walaupun udah ngos-ngosan setengah mati. Akhirnya, di sisa sisa nafas dan capek yang berasa, sampai juga di puncak Bromo. Dan tahukah? Mia nggak ada. HAHAHAHAHAHA. Gue nggak tahu dah Mia ada dimana, lagipula kawah Bromo lebih menarik dilihat daripada Mia (sorry ya Mi :p)

Sekurang-kurangnya satu jam waktu yang diperlukan dari lautan pasir bawah sampai ke puncak alias kawah Bromo. Disitu sudah ada beberapa temen-temen yang sampai duluan. Nggak lama kemudian datang Bu Nesta, Bu Fero, Pak Martadi, dan Maam Lina. Khusus Maam Lina, doi usahanya niat. Bau belerang yang makin ke puncak makin menyengat, plus doi belum lama lahiran akhirnya sampai puncak juga. Di sepertiga jalan bahkan doi sampai nuang air minum ke maskernya, supaya masih ada “udara” yang bisa dan aman dihirup. Salut dah buat Maam Lina. Diujung tangga, gue juga lihat Adit yang masih usaha buat sampai ke puncak. Doi juga udah kembang kempis plus capek yang banget-banget naik tangga banyak itu. Btw, mitos kalau tangga Bromo itu susah dihitung cukup terbukti. Dari beberapa jawaban gue dan temen gue nggak ada yang ngasih angka sama. Selisih 1 lah, kurang 2 lah, lebih 2 lah, pokoknya ada ratusan deh.

Namanya baru pertama kali, udah gitu cakepnya Bromo yang luar biasa sayang dong kalau sampe puncak cuma sekedar ngelurusin kaki sama minum doang. Walhasil langsung lah kita semua foto-foto bareng. Foto sendiri, berdua, bertiga, berenam, sampai beramai-ramai. Selfie kek atau apakek namanya. Di HP kek atau di kamera. Pokoknya diatas itu kita puas-puasin deh foto-foto. Ternyata dari atas Bromo bener-bener kelihatan segimana luasnya tuh kaldera. Tapi lama-lama, matahari mulai naik dan mulai panas dan ditambah lagi asap belerang yang baunya menyengat itu ternyata makin-makin parah kalau tambah siang. Akhirnya sekitar dua puluh menitan diatas, kita sudah harus turun kebawah. Lagipula, tujuan kita hari itu bukan cuma Bromo doang. Satu persatu tangga yang tadi kita naikin, mulai kita turunin lagi. Lebih cepat dari naik, tapi lebih ekstrim dari naik. Soalnya yang dilihat dari tangga hamparan kaldera luas yang rasanya kayak mau terjun. Turunnya harus pelan-pelan dan konsentrasi. Bengong-bengong, jatuh gelinding, berasa.

Akhirnya semua tangga turun sudah dilewati. Ternyata sampai di bawah ketemu sama rombongan yang milih untuk nggak ikutan naik sampai keatas. Mereka masih pada nungguin di titik awal tangga, walaupun ada juga di daerah landai dibawah. Yasudah karena kita sudah disuruh untuk cepet-cepet balik lagi ke Malang, gue dan beberapa yang lain langsung buru-buru turun kebawah. Ya sekitar 20 menitan lah untuk sampai ke kaldera bawah. Disana ada yang lagi asik-asik foto, ada juga yang lagi asik makan bakso malang. Dari aromanya sih enak, tapi sayangnya gue belom mood makan pas itu. Dan disitu juga, gue akhirnya ketemu Mia dengan senyum sinisnya hahahaha.

Setelah kelar ini itu, kita semua langsung disuruh kumpul ditempat mobil-mobil jeep parkir. Yap, kita harus balik lagi ke Malang. Akhirnya kelas gue milih untuk langsung kesana untuk foto kelas dulu. Ya sekitaran setengah jam buat nunggu semuanya kumpul dan akhirnya berfoto kelas. Foto kelas pun kelar, akhirnya kita semua langsung menuhin jeep-jeep yang sudah terparkir untuk segera ke RM. Bromo Asri untuk sarapan pagi dan kembali ke Malang. Berasa juga kan ya, jam 8 pagi belum sarapan.

----------------------------------------------------------------------------

Alhamdulillah kelar” – @silmychania

Too speechless to describe, Too amazing to feel it by yourself. Thanks for 6nights 5days, 46!” – @gincuuw

“AKHINYAA!! Wohoo makasi banyak 5hari kebersamaan & seru2annya 14'46 dan makasih utk yg tersayang&tercinta bus 2!!! Gonna miss u guys!” – @shabuuun

“Home sweet home. Thank you 14’46 especially Decepticons4 and #GANTENG! Unforgettable trip…” - @rafiandra21