Kembali Bercerita

Selasa, Oktober 23, 2018


Hai semua, udah lama ya nggak muncul lagi di sini. Terakhir tahun lalu kayanya nulis di blog kesayangan ini. Ohiya, nggak kerasa juga sebenernya ini udah hampir 10 tahun gue ngeblog. Awalnya cuma karena ngikutin Bokap yang ngeblog untuk urusan kerjaan, sampai akhirnya ceritain banyak hal disini. Kadang bahas serius, kadang nyisipin curhatan dibalik puisi-puisi yang ada, sampai ya hal-hal konyol yang dialami dari dulu jamannya SMP sampai sekarang hampir mendekati akhir masa perguruan tinggi. Hehe jadi ingat dulu pernah salah nulis sampai-sampai konflik sama kelas lain

Buat gue, nulis itu semacam sarana pembunuh waktu. Terkadang nulis juga jadi hiburan tersendiri. Mungkin itu yang dirasain di platform lain seperti Wikipedia yang beberapa kali gue ikutan menyunting artikelnya. Kadang nge-edit Wikipedia jadi kaya sarana pembunuh waktu yang efektif, soalnya satu artikel paling cepet gue buat atau edit sekitar 20-30 menit udah termasuk baca sumbernya juga. Pernah beberapa tahun lalu pas gue lagi bosan menunggu pagi pas perjalanan pulang dari Bali ke Jakarta, ada dua sampai tiga judul postingan yang dibuat cuma dalam waktu sekitar 1-2 jam. Bahkan waktu jamannya awal kuliah nasib di kost-an lama nggak ada Wifi, gue bisa ngehabisin waktu dari jam 7 sampai setengah 10 malam di perpustakaan kampus buat ngeblog. Kadang sambil nemenin kamu juga dulu hehe. Kalau bahas hiburan, bawaannya jadi ingat jamannya SMP dulu. Jaman dulu banyak teman-teman sampai adik kelas yang suka ngeblog dan kadang isi blog bisa jadi pembahasan sehari-hari. Ujung-ujungnya, gue jadi kebawa untuk menceritakan apa yang dialami di sekolah ke blog. Lucunya juga, dulu masing-masing dari blog kita bisa saling “membalas” pembahasan yang ada di blog lainnya. Paling tau-taunya besok udah ramai aja dibahas orang-orang di sekolahan. Bisa nulis dan ngebagi tulisan kita ke orang banyak, dan apalagi tulisan itu kadang bisa ya seenggaknya ngebuat orang itu senang aja udah jadi hiburan tersendiri buat penulis

Banyak yang kadang suka gue bahas di Blog ini. Beberapa kali bahas soal pilkada dan politik, pernah bahas soal jalan-jalan pribadi atau angkatan, bahas yang nggak penting soal kehidupan jaman dulu sekolah, ya sampai curhatan-curhatan pribadi juga adasih. Seringkali semua bahan tulisan itu datangnya ya dari hal-hal yang sekilas muncul. Ngelihat orang di jalan, nemuin sesuatu di jalan, diam bengong di sebuah tempat, sampai kebaikan-kebaikan kecil yang kadang nggak kita sadari. Semuanya ngalir aja gitu. Memang sih, merealisasikan ide dan gagasan jadi tulisan itu memang susah. Apalagi buat gue yang punya sifat moody. Kalau mood udah jelek, sebagus apapun idenya bisa berantakan tulisannya. Sedangkan kalau mood bagus tapi idenya nggak ada, ya nggak jadi juga tulisannya. Paling parah sih kalau moodnya jelek dan idenya jelek, buka laptop buat ngetik aja malas jadinya. Entah jaman dulu nyaman aja kalau ngeblog di perpustakaan kampus pas malam. Duduk di sebelah jendela yang kebuka, angin dinginnya yang semilir, suasananya hening, apalagi kalau ternyata langitnya lagi cerah dan penuh benda angkasa. Kalau kondisinya gitu biasanya ngehadap jendela, ngelihat ke atas langit, nggak lama memalingkan wajah lagi ke layar laptop, terus senyum sendiri sambil jarinya ikutan ngetik hehehe.

Sayang, tahun-tahun terakhir kesibukan kuliah makin banyak sampai waktu untuk sekedar cerita di blog ini jadi berkurang. Dulu sempat punya target berapa postingan per tahun, bahkan dijadiin resolusi tahunan. Tapi ya semakin kesini lebih banyak melesetnya, akhirnya jadi yang penting ada yang ditulis dan diposting setiap tahun. Ya terkesan dijadiin alasan banget, tapi memang keadaannya gitu. Seringnya ya buka laptop buat ngutak-atik tugas, ngedit gambar, sesekali ngurusin surat dan proposal, sisanya streamingan film sambil tiduran. Semuanya banyak berkutat di semua urusan ini aja. Ya terkadang memang suka kefikiran juga, kenapa untuk sekedar nulis aja susah gitu. Padahal ide-ide atau hal-hal apapun bisa jadi bahan sebuah tulisan. Padahal gue sendiri udah ngeantisipasi, misal nulis di email, nulis di word, tapi akhirnya mandek lagi. Rasanya memindahkan apa yang ada di otak kedalam sebuah tulisan lebih sulit dibanding ke sebuah gambar dan disebarluaskan di dunia maya. 

Dan saat ini, gue berusaha untuk balik lagi ke platform yang sudah digeluti sejak kelas 1 SMP. Yap, gue akan berusaha untuk Kembali Bercerita. Kembali menuangkan apa yang selama ini ada dalam fikiran gue, hati gue, perasaan gue ke laman ini dan dibagi ke semua yang suka, atau bahkan nggak suka sama sekali. Mungkin saatnya Fauzan Bercerita kembali pada namanya, yaitu menceritakan apa yang gue alami, entah baik atau buruk, serius atau bercanda, khayal ataupun nyata. Semoga ini menjadi awal untuk Kembali Bercerita kedepannya.

Terimakasih🙏

Pilkada Indonesia

Jakarta, Ayo Ambil Langkah Maju! (1)

Kamis, April 13, 2017

Assalammualaikum semuanya!

Alhamdulillah hari ini gue masih bisa muncul lagi di Blog ini. Hari ini dan belakangan pembahasan dimana-mana isinya Pilkada Jakarta. Ya, putaran kedua Pilgub Jakarta bakalan digelar 19 April nanti. Tinggal dua pasang calon yang akan bertarung kembali di Putaran Kedua nantinya. 

Readers semuanya, mungkin udah banyak yang tau kalau misal gue mendukung ANIES-SANDI di Pilkada Jakarta 2017 ini. Tapi mungkin nggak banyak yang tahu, kenapa gue mendukung mereka untuk jadi Pemimpin Ibukota ini. Nah, ada beberapa alasan yang bakalan gue sampaikan untuk Readers semua. Ayo Ambil Langkah Maju!

OK OCE (One Kecamatan, One Center for Entrepreneurship)


Sebuah gerakan melahirkan 200.000 pengusaha baru yang diberikan selain bantuan modal usaha, juga akses market, dan mentoring bagi para wirausaha

KJP PLUS (Kartu Jakarta Pintar Plus)

  Melanjutkan dan menambah manfaat dari Kartu Jakarta Pintar yang diberikan kepada seluruh anak usia sekolah, pelajar paket A, B, C, madrasah, pesantren, kursus keterampilan, dan bantuan tunai bagi siswa tak mampu. Selain itu adanya penambahan fitur gratis bagi pengguna

 OK OTRIP

  
Sebuah terobosan integrasi transportasi umum dengan tiket terusan seharga Rp 5.000 sekali jalan dengan berbagai moda transportasi seperti Transjakarta, bus, angkutan umum, dan kapal reguler Kepulauan Seribu

HUNIAN DP NOL RUPIAH


Sebuah Kredit Murah Berbasis Tabungan untuk warga Jakarta berpenghasilan 3-7 juta rupiah yang belum memiliki rumah sendiri. 

HARGA SEMBAKO TERJANGKAU
 

Memberikan Kartu Pangan Jakarta kepada warga miskin agar tepat sasaran, dan memastikan pasokan dan penyimpanan bahan pokok di Jakarta aman

KEPULAUAN SERIBU MANDIRI


Menjadikan Kepulauan Seribu sebagai destinasi wisata sekaligus Pusat Konservasi Ekologi yang dapat meningkatkan perekonomian setempat

 TOLAK REKLAMASI


Menghentikan segala proses reklamasi Teluk Jakarta dan mengembalikan kembali ekosistemnya, serta memperhatikan nasib para nelayan Teluk Jakarta


Nah, itu baru sebagian alasan kenapa gue mendukung ANIES-SANDI di PIlkada Jakarta putaran pertama, dan kedua besok. Di postingan berikutnya bakal gue share lagi Langkah Maju yang akan kita raih selama lima tahun kedepan. 

Jangan lupa, 19 April 2017 datang ke TPS dan Coblos Nomor 3. Ayo Ambil Langkah Maju!



Sumber:

2 2 1

Minggu, Februari 26, 2017

Tuhan tuh ngasih dua mata
Dua telinga
Satu mulut

Wajar,
Dia ingin kita melihat bagian lain manusia
Melihat apa yang mungkin tak nampak
Sisi sisi yang terlewat, terabaikan
Positif dan negatif yang kadang bisa kau ambil
Tak salah, agar pandanganmu kian luas
Tak hanya sebatas 180 derajat

Banyak suara, bahasa, dan kata
Tak cukup satu telinga untuk mendengarkan
Suara yang dalam, terserak, tersisih
Untaian kata-kata, nada-nada, riuh rendah
Dari mereka yang kadang tak kau lirik
Dari kemelut rasa yang tertumpahkan

Mulut yang tunggal
Tak jaminan kau terjaga
Dari segala dusta, nista, dan cerca
Yang tajam hingga mampu menusuk dada
Yang manis melumpuh nurani
Dia jugalah yang bisa menutup mata dan telingamu

Kau dapat menelan itu
Memuntahkannya juga mampu

02.30
26 Februari 17

Jakarta Maju Bersama dengan ANIES-SANDI!

Jumat, Januari 20, 2017

Assalammualaikum readers.
Apa kabarnya?

Pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 sudah didepan mata. 3 pasang calon siap bertarung pada Pilgub tahun ini. Dari 3 calon tersebut, saya menyarankan readers untuk memilih pasangan ANIES-SANDI

Anies Rasyid Baswedan, lahir di Kuningan 7 Mei 1969 merupakan tokoh nasional yang mumpuni dan berpengalaman. Selama 20 bulan sejak Oktober 2014, Ia dipercaya Presiden Joko Widodo sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan berhasil menorehkan banyak program dan prestasi. Menghapus UN sebagai syarat kelulusan, menjadikan kementerian dengan serapan anggaran tertinggi kedua, mengirim guru ke daerah terdepan, menghapus Masa Orientasi Sekolah, serta memperoleh predikat WTP bagi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. 

Kepemimpinan Mas Anies juga diakui dunia. Ia termasuk kedalam "20 pemimpin muda yang dalam 20 tahun kedepan diprediksi mengubah Dunia" versi Majalah Foresight, "100 tokoh intelektual dunia" versi Majalah Foreign Policy, dan "500 tokoh Muslim paling berpengaruh didunia" dari Yordania. Tak perlu diragukan lagi soal kapasitas dan kredibilitas dari Mas Anies.

Sandiaga Salahuddin Uno atau Bang Sandi. Enterpreneur kelahiran Pekanbaru 28 Juni 1969 merupakan seorang pengusaha sukses dan politisi yang merakyat. Ia merupakan pendiri PT. Recapital Advisors dan PT. Saratoga Investama Sedaya Tbk., yang merupakan perusahaan investasi aktif terkemuka di Indonesia. Perusahaan Bang Sandi yakni Saratoga, turut berkontribusi dalam pembangunan Tol Cikopo-Palimanan.

Kepemimpinannya pun tidak perlu diragukan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) 2005-2008, pendiri Yayasan Inotek Indonesia, Yayasan Mien R. Uno, dan Yayasan Indonesia Setara. Ia juga merupakan Anggota Dewan Pembina Partai Gerindra. 

Banyak pihak yang turut mendukung pasangan ANIES-SANDI pada Pilgub 2017 ini. Diantaranya:
- Bambang Widjojanto, mantan Komisioner KPK
- Adnan Pandu Praja, mantan Komisioner KPK
- Pandji Pragiwaksono, komedian
- M. Arifin Ilham, ustaz
- Soleh Mahmud, ustaz
- Habib Ali bin Abdurrahman Assegaf, habaib
- Boy Sadikin, politisi/putra Ali Sadikin
- Biem T. Benyamin, politisi/putra Benyamin Sueb
- Jend. TNI (Purn.) Djoko Santoso, mantan Panglima TNI
- Mayjend. TNI (Purn.) Fuad Basya, mantan Kapuspen TNI
- Reiza Patters, aktivis lingkungan
- Indra J. Piliang, politisi

Pasangan yang membawa tagline Maju Kotanya, Bahagia Warganya ini memiliki 23 Janji Kerja yang akan diterapkan dikala menjabat nanti, diantaranya:
1. Kartu Jakarta Pintar Plus
2. Kartu Jakarta Sehat Plus
3. Menghentikan Reklamasi Teluk Jakarta
4. Menjadikan Kepulauan Seribu sebagai Kepulauan Pembangunan Mandiri
5. Membangun Stadion berkelas Internasional
6. Membangun Taman Benyamin Sueb
7. Memuliakan perempuan Jakarta
8. OK OCE (One Kecamatan, One Center Entrepreneur)
dan masih banyak lainnya. 


Yuk 15 Februari 2017, bersama mendukung  
Anies Baswedan - Sandiaga Uno 
untuk mewujudkan Jakarta yang 

Maju Kotanya, Bahagia Warganya


SALAM BERSAMA

 

Kunjungi:

Cerita 25 Jam Gili Labak

Kamis, Desember 29, 2016

Hai semuanya. Assalammualaikum!

Sudah lama gak ngepost di Blog satu-satunya ini. Ya, kasian si sibuk selalu gue jadiin alasan kenapa gak ngeblog haha. Kebetulan minggu tenang, jadi kenapa nggak buat nge-blog lagi. Ohiya, jadi gue sekarang lagi minggu tenang karena minggu depan bakalan UAS semester 3. Dan sedihnya, gue kemungkinan nggak pulang karena masih harus asistensi. Hiks...

Oke kali ini gue akan cerita soal pantai. Yup, kemaren gue mengawali minggu tenang dengan jalan-jalan ke Pulau Gili Labak! Ada apa ke Gili Labak? Jadi, kemaren ceritanya adalah acara Pembubaran Panitia Kampung Budaya 4 dan dipilih destinasinya di Gili Labak, Sumenep. Ohiya ada yang nggak tau Gili Labak? Gili Labak berada di Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Perjalanan dari Malang ke Pulau Gili Labak membutuhkan waktu sekitar 9-10 jam dengan menempuh jalur darat kemudian lanjut dengan kapal dari Pelabuhan Kalianget, Sumenep.

Tanggal 25 Desember malam, semua rombongan yang ikut udah stay di depan Gerbang Masuk Veteran menunggu yang lainnya sama bus yang bakal bawa kita ke Gili Labak. Kalau nggak salah, sekitar 50-an panitia yang ikut pembubaran kali ini. Kita semua yang ikut, diminta stay jam 11 disana, karena busnya bakalan datang jam 12 malam. Okelaah, akhirnya gue bersama Mbak Fani menembus sepinya kampus sekitar jam 11 kurang sedikit dan langsung ke Gerbang Veteran yang ternyata sudah banyak yang nunggu disana. Sambil nunggu, ya semua asik ngobrol-ngobrol dan Bunda Nelly sibuk nagih duit buat bayar jalan-jalan ini haha. Tenang, cuma 25000 aja kok. Kobisa? Tanya Nelly hahaha :p Lumayan lama buat nunggu, akhirnya bus datang dan sekitar jam 1 dini hari kita berangkat. Perjalanan tengah malam sukses bikin sebagian besar rombongan tidur sepanjang jalan, termasuk gue sendiri. Tapi tetep, semuanya minta dibangunin pas lewat Jembatan Suramadu. Setelah 2 jam perjalanan, akhirnya nyebrang juga di Suramadu. Mereka yang minta dibangunin, ada yang berusaha buat melek, sisanya cuma merubah posisi tidur.

Selamat Datang di Gili Labak!
Nggak sadar, gue dibangunin pas bus lagi mampir di salah satu masjid di Sampang. Sekitar setengah jam, kita rombongan Sholat Subuh sebentar trus ngelanjutin perjalanan lagi. Bus yang tadinya sepanjang jalan senyap, mulai rame cuap-cuap sana-sini. Termasuk Hasq yang sibuk ngelantur sana-sini (Hai, Hasq!) Singkat cerita, jam 8 akhirnya kita semua sampai di Pelabuhan Kalianget, Sumenep. Lumayan 8 jam di bus ya. Tadinya bayangan gue adalah Gili Labak itu gaperlu naik kapal lagi untuk kesana. Ternyata salah. Kita harus naik ke tiga kapal, masing-masing sekitar 15 orang untuk lanjutin lagi perjalanan dari Pelabuhan Kalianget ke Gili Labak. Lagi-lagi, bayangan gue cuma sebentar naik kapalnya macem dari Nusa Dua ke Pulau Penyu di Bali. Ternyata, sekitar 1,5-2 jam baru sampai di Gili Labak. Well, gue memilih duduk di ujung perahu dan lama-lama rebahan sambil berjemur (baca: ngitemin badan). Ohiya, sepanjang perjalanan di laut suasana yang dilihat itu beberapa pulau kecil dan juga keramba-keramba nelayan pas baru berangkat dari pelabuhan. Semakin ke tengah, yang bisa dilihat cuma lautan biru yang luas dan sempet gue liat ada ikan terbang, wow. Akhirnya, dari jauh pulau yang katanya indah banget itu kelihatan juga. Kita mendarat!

Putihnya pasir pantai Gili Labak dan jernihnya air laut dengan view karangnya sukses menyambut gue dan rombongan lain. Kita udah excited dan rasanya pengen langsung main air saat itu. Semuanya langsung ke saung untuk siap-siap, dan nunggu. Kita baru dikasih waktu snorkeling sekitar jam setengah 12, dan sambil nunggu gue dan beberapa yang lain cari spot foto-foto. Lumayan kalo kata Mas Erlangga buat stok foto line selama setahun hahaha. Puas foto-foto, akhirnya kita berangkat ke lokasi snorkeling. Sebelumnya, gue sempet snorkeling juga awal tahun ini di Pantai Tiga Warna Malang, cuma disana kita gaperlu naik perahu ke lokasinya. Sedangkan di Gili Labak kita naik perahu dulu, ya sekitar 5 menit ke lokasi snorkeling. Gue yang gabisa berenang dan alatnya yang rada longgar bikin parno gue kambuh yang harus buat gue sering-sering ngangkat kepala dari air. Ohiya, entah kenapa mata gue perih banget selama snorkeling kemarin setelah kemasukan air laut. Entah alatnya longgar atau kadar air lautnya yang beda dibanding waktu di Tiga Warna. Overall, bawah lautnya Gili Labak keren banget. Terumbu karangnya masih bagus, ikannya juga beragam, sayang dibeberapa titik visibilitynya kurang bagus. Sambil main air, foto-foto teteup kudu jalan haha. Setelah puas mainan air, kita semua naik kapal untuk akhirnya makan siang. Yup, tepatnya makan yang di jamak, soalnya kita gasempat sarapan juga. 

Foto ala-ala depan Dermaga
Jam dua siang, kita kembali lagi ke Pelabuhan Kalianget untuk bebersih dan balik lagi ke Malang. Perjalanan laut, angin yang adem, dan badan yang capek seharian main air sukses bikin gue tidur di kapal. Puas banget tidurnya. Bangun-bangun, Mas Kacong dengan "ramahnya" menyelamati gue setelah tidur dengan tentramnya wkwk (dan gue baru sadar kalo momen tidur gue diabadikan, Thanks Arif). Sampai di Kalianget, semuanya langsung bilas dan membersihkan diri trus mengganjal perut dengan jajan di Indomaret ataupun warung kopi yang banyak gorengan tersaji. Nggak lama, kita Sholat Maghrib dulu di masjid dan akhirnya lanjut perjalanan balik Malang. Perjalanan malam sambil ditemenin lagu-lagu yang terkadang melow sama hujan sukses buat menangos terlelap. Lagi-lagi, beberapa minta dibangunin pas lewat Suramadu. Setelah lewat Suramadu, gue pun menutup malam itu dengan tidur. Terakhir, gue cuma mau bilang Terimakasih banyak untuk perjalanannya, keseruannya, pokoknya selama 25 jam ke Gili Labaknya. Makasih juga buat pelajaran yang bisa gue ambil selama rangkaian Kampung Budayanya. Sekalipun bubar, semoga masih bisa ketemu di kesempatan lainnya. 


Thanks!


Oke, ini dulu postingan gue. Makasih buat yang masih suka nge-stalk dan mungkin menunggu update dari blog ini hehe. Semoga di 2017 nanti gue bisa lebih sering lagi nge-post. Bye🙋 

Like us on Facebook

Flickr Images